DILEMA ETIKA PELAYANAN TERHADAP MAHASISWA

Pegawai Administrasi di Perguruan Tinggi di Indonesia (mungkin dimanapun) adalah sekelompok manusia yang bertugas sepenuh hati, menjunjung tanggung jawab setinggi langit, mengemban dan menjalankan kebijakan kampus, melayani dosen, mahasiswa, dan pimpinannya tetapi bukan bagian dari Civitas Akademika (CA) Perguruan dimaksud. Mereka tak ubahnya pahlawan tanpa tanda jasa mengambil alih gelar tersebut yang diberikan kepada guru tempo doeloe, guru sekarang tidak lagi berhak menyandang gelar tersebut karena gaji guru/ kesejahteraan guru (Guru PNS) sudah jauh lebih baik ketimbang zaman doeloe. Gelar tersebut lebih pantas diberikan kepada pegawai adminitrasi Perguruan Tinggi di Indonesia terutama di UNPAS "khususil khusus", yang mana gaji pokok pegawainya hanya l.k. 3/4 gaji pokoknya PNS, dengan tidak ada jaminan hari tua (so, klo dah pensiun ya gak dapet opo-opo getho, hanya uang kadeudeuh yang hanya cukup untuk beli susu). Tentu saja hal tersebut tidak penting bagi pembaca yaa...sekedar sekilas info...!

Pekerjaan setiap staf administrasi cukup beragam sesuai dengan posisi dan kedudukannya di lembaga tersebut, sebut saja KSB Kemahasiswaan di FE UNPAS Job Deskriptions-nya l.k. mengaplikasikan dan mengimplementasikan kebijakan pimpinan di bidang pelayanan kemahasiswaan dengan tidak mengesampingkan pelayanan terbaik kepada mahasiswa dan organisasinya. Seluruh jiwa raganya tercurah untuk memfasilitasi dan atau menjembatani antar mahasiswa dengan fakultas sesama CA, (narzis buanget ya...haha dilarang protees). Contoh lain segerombolan manusia di Bagian AKademik (SBAP) adalah pelayan langsung mahasiswa (dapurnya Fakultas) merekalah yang menjadi ujung tombak administrasi Akademik (pelayan dosen & mahasiswa secara langsung).
Di bidang inilah sering terjadi salah faham yang dilematis...

Setumpuk pekerjaan rutin (reguler) yang terkadang lebih dari bidang pekerjaan staf admin lainnya, ditambah lagi pekerjaan non-reguler (Kepanitiaan; KKM, SP, Ujian, Maintenance System, etc.) sementara pelayanan harus tetap berjalan sesuai dengan yang ditetapkan, ditambah sedikit basa-basi, senyum semu sebagai penyedap etika pertanda seorang pelayan tunduk terhadap boss-nya, mengabulkan apa maunya, meladeni apa pintanya. Itulah nasib seorang pelayan...ditengah lumuran peluh, lumatan keringat harus tetap melayangkan dan menampakan raut wajah senang ceria dibumbui senyum manis tersungging...sungguh berat ditengah kelelahan harus menebar senyum, melepas harapan. Tidak sedikit dengan angkuhnya "boss" yang dilayani dengan congkaknya meneriakan pintanya,ditengah kelelahan pelayannya sang "big-boss" meminta si pelayan tetap tersenyum, tetap meladeni segala kemauannya, seakan tidak tahu menahu beban hidup yang diderita pelayannya.

Atas dasar pengalaman penulis yang pernah mengecap pekerjaan di berbagai bagian di unit garapan ini, sungguh (jika harus bersumpah "Demi Allah") sebenarnya saya berusaha dengan penuh kesungguhan untuk memberikan yang terbaik bagi boss-boss yang dilayani; berusaha menebar pesona dengan senyuman di tengah kepenatan dan kelelahan. Manakala terdapat hal-hal yang kontradiktif dengan aturan lembaga tak jarang mendapat teguran pimpinan, tak jarang mendapat hukuman, bahkan tidak sedikit cercaan dan hinaan serta umpatan dari boss CA lainnya. Pada satu sisi pegawai non-CA ini harus bekerja maksimum sesuai aturan dan tidak diperkenankan membuat kebijakan sendiri (jalankan aturan jauhi larangan).

Menjalankan kebijakan pimpinan bukanlah hal yang mudah jika harus disandingkan dengan nurani; f.Example. Kebijakan LUNAS DPP saat menjelang UAS, disatu sisi pegawai sebagai kepanjangan tangan fakultas adalah penegak aturan harus menegakkan aturan dimaksud dengan penuh tanggung jawab dan tidak memilah atau memilih disisi lain manakala mendengar keluhan mahasiswa, permohonan mahasiswa yang nyaris bersujud memohon bantuan (kontradiktif dengan ketika pegawai memberikan pelayanan buruk kepadanya; mereka mencaci, memaki, mengumpat, etc) demikian tergetar hati dan rasa ini, tapi aturan tetap aturan, undang-undang tetap harus ditegakkan...nya teu bisa kumaha. Akhirnya cacian, makian kembali kami telan bulat-bulat, bukan tidak berani melawan, menampar, mengahardik...tapi kita adalah bagian dari keluarga layaknya anak dan orang tuanya sebenci-bencinya pegawai kepada mereka tak kan meninggalkan bekas luka, begitu dan selalu begitu.

Tulisan ini tidak bermaksud memojokan salahsatu pihak di antara dua elemen ini (CA & non-CA), semua ini hanya sebagai introsfeksi diri ternyata diantara kami terdapat dilema yang terus mengganggu. Arifasi para pembaca adalah harapan dan merupakan penghargaan tiada terhingga kepada penulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar